Berita Terkini

Menitik Karir

KERTAS DAN PENA UNTUK PERAN GURU SMP NEGERI WASIOR MASA PANDEMI COVID 19 DARING BUKAN UTAMA. Yustinus Rumabur, S.Pd.M.M.Pd Kepala Sekolah SMPN Wasior Filosofi kertas dan pena sama seperti halnya pembelajaran terhadap peserta didik, dimana kertas polos sebagai peserta didik, pena sebagai pendidik, dan tentunya tinta sebagai materi yang diajarkan. Jika pena salah menuliskan sesuatu pada kertas polos tersebut, berarti tak akan bisa dihapus. Jadi, pengarahan terhadap peserta didik ini harus sangat dipahami dengan benar oleh para pendidik. Filosofi kertas dan pena tadi membuktikan bahwa komponen terpenting dalam sebuah pembelajaran adalah pena sebagai pendidik, kertas sebagai peserta didik, dan tentunya tinta sebagai bahan ajar yang diberikan oleh pendidik. Namun, perlu ada perhatian khusus, yaitu apa yang akan dituliskan pena, saya ibaratkan sebagai guru atau pendidik terhadap kertas polos tersebut. Jika pena menuliskan hal baik, tentu akan berdampak pada tulisan yang baik pula. Sebaliknya, jika pena menuliskan hal buruk maka terciptalah kertas dengan tulisan yang buruk pula. Siswa SMPN Wasior bagaikan kertas kosong dan guru bagai pena yang akan menulis di lembaran kertas. Siswa tetap memerlukan tegur sapa, sentuhan kasih sayang dari gurunya karena kelak mereka akan terus mengingat gurunya yang telah menorehkan tulisan di lembaran kertas kehidupannya. Salah satu peranan guru adalah melaksanakan pembelajaran dengan menanamkan beberapa nilai pendidikan karakter yang di antaranya menjadi aktual di masa pandemi Covid-19 ini. Pandemi Covid-19 berdampak pada dunia pendidikan, termasuk pendidikan di SMPNegeri Wasior Kabupaten Teluk Wondama Papua Barat. Adanya wabah virus corona ini menghambat kegiatan belajar mengajar yang biasanya berlangsung secara tatap muka. Kendati begitu, pandemi ini mampu mengakselerasi pendidikan 4.0. Sistem pembelajaran dilakukan jarak jauh dengan memanfaatkan teknologi informasi. Memanglah susuh untuk menjawab sebuah pertanyaan dari orang tua siswa SMP Negeri Wasior tentang pada masa pandemik ini apakah anak saya mampu mengakselerasi pendidikan 4.0.sementara jaringan kurang mendungkung dan fasilitas IT lainnya tidak punya seperti Loptop dan HP android untuk mendukung siswa pada saat belajar Guru SMP Negeri Wasior tidak kehabisan akal dan strategi karena sudah disiapkan menjadi guru yang professional dalam bidang tugasnya dan berkomitmen dan berjiwa besar memacu diri serta selalu berpikir untuk memajukan anak bangsa di Kabupaten Teluk Wondama , selain daring dan luring yatu guru menyediakan modul setiap mata pelajaran terdiri dari 3 (Tiga) halaman untuk tugas mndiri siswa di rumah mengambil dan menyerahkannya kembali ke sekolah melalui Wali Kelasnya dan melanjutkannya ke guru mata pelajaran untuk penilaian . Jadwal Luar Jaringan. (Mengambil dan Menyerahkan Modul) Bulan Juli sampai dengan Oktober 2020 Senin & Rabu Selasa & Jumaat Kamis & Sabtu Kelas. VII Kelas VIII Kelas IX Siswa SMP Negeri Wasior mengerjakan tugas mandiri mendapat kesulitan mereka konsultasi melalui Daring ( Via WA dan Telp). Hampir sebagian besar sekolah di Kabuapten Teluk Wondama meliburkan dan memindahkan aktivitas belajar siswa sekolah ke rumah. Siswa melakukan aktivitas belajar dari rumah sebagai pengganti siswa tidak dapat belajar di sekolah. Pembeljaran di SMP Negeri Wasior dilaksanakan proses pembelajaran dengan tidak tatap muka di kelas hal ini dilakukan sebagai jalan untuk memutus mata rantai penyebaran Covid-19 dengan aktivitas menjaga jarak sosial (sosial distancing). Kebijakan belajar dari rumah di tengah pandemi Covid-19 di SMP Negeri Wasior kebijakan ini didasarkan pada Surat Edaran (SE) Mendikbud No 4 Tahun 2020 tentang Pelaksanaan Kebijakan Pendidikan dalam Masa Darurat Penyebaran Covid-19. Salah satu isi SE tersebut adalah memberikan himbauan untuk belajar dari rumah melalui pembelajaran daring atau pembelajaran jarak jauh tetepi situasi dan kondisi daerah ini tidak memungkingkan jaringan ITnya maka kami kesepakatan dengan Orang tua dalam sebuah rapat pada Jumat, 3 April 2020, pembelajaran di lakukan dengan DARING maupun LURING. Proses pembelajaran daring sebenarnya tidak mudah diberlakukan di Dalam proses Kabupaten Teluk Wondama karena pelaksanaannya, banyak keterbatasan dan permasalahan yang terjadi di lapangan. Menurut pengamatan dan refleksi penulis dari berbagai sumber, ada beberapa kendala dalam melaksanakan pembelajaran daring di SMP Negeri Wasior. Pertama, masih banyak guru yang mempunyai keterbatasan dari sisi akses maupun pemanfaatan gawai yang dimiliki. Tidak semua guru punya kemampuan untuk mengoperasikan dan memanfaatkan gawai canggihnya. Bagi guru yang melek teknologi, tentu hal ini tidak menjadi masalah.  Sebaliknya, bagi guru yang masih gagap teknologi, hal ini menjadi masalah. Padahal, pembelajaran daring memerlukan kreativitas dalam proses pembelajarannya.  Kreativitas ini tidak hanya dari sisi pembuatan konten materi yang menarik, tetapi juga kreativitas dalam memanfaatkan kelebihan media daring yang digunakan. Artinya, guru harus pintar mengkreasi materi pelajaran agar mudah dipahami oleh siswa dengan memanfaatkan media daring yang ada. Dan faktor lain yang mempengaruhi daring adalah jaringan LOLA alias Loding. Kedua, kemandirian belajar siswa di rumah tidak dapat sepenuhnya dapat terlaksana dengan baik. Kemandirian belajar menjadi tuntutan yang harus dipenuhi dalam pembelajaran daringdan luring. Keterbatasan untuk bertatap muka langsung dengan guru, membuat siswa harus mandiri dalam memahami materi dan mengerjakan tugas yang ada. Siswa harus memahami dengan baik materi yang disajikan. Kemudian, menyelesaikan tugas yang diberikan guru termasuk juga melaporkannya.  Dalam memahami materi dan mengerjakan tugas tersebut, tentu proses aktivitas belajar siswa tidak semulus dan semudah yang dibayangkan. Ketidak pahaman atau miskonsepsi suatu materi mungkin saja terjadi. Apalagi jika materi yang diberikan, butuh penjelasan yang lebih detail dan mendalam. Ketiga, tugas dan pekerjaan rumah yang diberikan guru membebani siswa. Pembelajaran daring dan luring selayaknya tidak membebani siswa dalam belajar. Siswa harusnya mempunyai kebebasan dalam aktivitas belajarnya. Tidak tertekan dengan banyaknya tugas dan waktu penugasan yang pendek. Termasuk juga dikejar-kejar dengan deadline pengumpulan tugas yang diberikan oleh guru. Artinya, materi dan jenis penugasan selayaknya diberikan waktu yang bijak dan sebisa mungkin terkait dengan kesadaran bahaya wabah Covid-19. Keempat, tidak semua siswa mempunyai gawai (handphone). Gawai merupakan alat utama yang digunakan untuk pembelajaran daring. Tetapi, tidak semua siswa mempunyai alat komunikasi ini. Mungkin, bisa saja gawai menjadi barang mewah bagi siswa dari kalangan ekonomi tidak mampu. Akibatnya, siswa tidak punya fasilitas pembelajaran daring oleh karena itu modul adalah solusinya bagi siswa di SMP Negeri Wasior. Belajar cecara luring. Kelima, pembelajaan daring terkendala dengan signal internet yang tidak stabil dan pulsa (kuota data) yang mahal. Kita tahu, bahwa Indonesia mempunyai kondisi geografis yang beragam. Keragaman kondisi letak geografis rumah siswa yang beragam menjadi masalah terutama terkait kestabilan signal internet.  Rumah siswa SMP Negeri Wasior ada yang di kepulauan Kampung Yop Mios , Kampung Mamisi, Kampung Karuan sehingga sulit untuk materi ajar disampaikan kepada siswa dengar daring melainkan luring solisinya modul . Dan, ada pula siswa yang tinggal di kampung. Kestabilan signal internet diperlukan agar dalam proses pembelajaran tidak terganggu sehingga siswa dapat mengikuti pembelajaran dengan baik. Akan tetapi tidak hanya signal, pulsa (kuota data) internet juga harus cukup tersedia. Padahal pembelian pulsa (kuota) data memerlukan biaya yang tidak murah.